Selamat datang di diacahyawati.blogspot.com

Selasa, 28 Agustus 2012

Buruknya Pendidikan Indonesia

            Seperti yang kita ketahui ,pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat,  bangsa dan negara.Pendidikan sekarang, mengalami kesalahan yang sama. Benar rasanya berbicara sejarah, fakta serta polanya memungkinkan sama dengan peristiwa dan pelaku berbeda. Lulusan Barat (tanpa bermaksud menggeneralisir) menderita pembelokkan makna . Zaman globalisasi saat ini sudah meracuni dunia pendidikan ,bagaimana tidak ?sebagaian generasi penerus bangsa hancur sebab pergaulan serta dunia politik yang meracuni dunia pendidikan saat ini .
            Seperti yang kita lihat saat ini ,banyak politik suap yang mempengaruhi dunia pendidikan .misalnya seorang anak yang ingin mendapatkan SMA favoritnya namun ia bodoh tak punya skill dan pendidikan ,dengan orang tuanya yang memiliki kelebihan kekayaan ia mampu untuk menembus dunia pendidikan di SMA tersebut .tapi,bagaimanakah dengan orang jenius yang tak mampu ?kebanyakan mereka kalah karena politik uang dan faktor tertentu yang membuat mereka ragu dan tak ingin melanjutkan sekolahnya .
            Apakah ini yang disebut pendidikan Indonesia ? manakah janji pemerintah yang menjanjikan bahwa  di masa mendatang, kita sebagai generasi intelektual terdidik perlu merumuskan perubahan. Pendidikan harus mampu diakses semua kalangan masyarakat, murah berkualitas dan kurikulum yang menyenangkan bukan memberatkan  UUD 1945 dalam Pasal 31, ayat 3 menegaskan mengenai tujuan pendidikan. Jika masih ada diskriminasi pendidikan, artinya pemerintah merampas hak rakyat dan merobek amanat konstitusi.
            Kondisi pendidikan saat ini tak ada habisnya, mengenai  sistem  pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan diatas. Kondisi pendidikan kita saat ini begitu menyedihkan. ada banyak hal yang harus dibenahi dalam pendidikan kita ini, mengingat pendidikan adalah investasi   masa depan  bangsa  dan pengaruh dinamis terhadap perkembangan jasmani dan rohani atau kejiwaan anak  bangsa kita , dimana mereka dididik agar bisa meneruskan gerak langkah kehidupan bangsa ini agar menjadi bangsa yang maju, berpendidikan dan bermoral. ini tentunya akan menjadi tugas dan tanggung jawab banyak pihak , orang tua, para pendidik (sekolah), masyarakat dan juga pemerintah. kewajiban kita untuk mengembalikan kondisi pendidikan kita ini agar menjadi pendidikan yang terbaik,  bermutu serta  cerdas dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan IMTAQ. pendidikan yang bertujuan untuk membentuk generasi muda menjadi manusia haruslah menyangkut unsur-unsur spiritual, moralitas, sosialitas dan rasionalitas, tidak hanya menekankan segi pengetahuan saja (kognitif) tetapi harus menekankan segi emosi, rohani dan hidup bersama. begitu juga dengan Ujian Nasional yang pemerintah canangkan sebagai bentuk penilaian terhadap hasil belajar siswa. kegiatan ini hendaknya tidak hanya sekedar menguji akan kemampuan siswa dalam hal ilmu pengetahuan,  akan tetapi  juga menguji akan kemmpuan siswa dalam kerohaniannya. Sesuai dengan tujuan ,peserta didik hendaknya memiliki kekuatan spiritual keagamaan.
            Dan mari kita ciptakan guru yang professional ,jangan kita ciptakan guru yang tak berkualitas karena seorang guru ,seorang pemimpin dapat memberikan contoh yang tauladan terhadap anak didiknya .Seperti yang kita lihat banyak sekali guru yang mengajar anaknya dengan terapan DUKCAP (duduk,catat,tugas,pulang) seorang guru tak mengerti apakah anak tersebut mengerti akan pelajaran yang disampaikannya atau sebaliknya.
Seharusnya hal itu patut diteladani ,betapa buruknya pendidikan kita ?betapa malunya kita ,hanya sebagian yang menyadari dan sedikit pula yang tahu mengenai hal ini .
Pendidikan berjalan diskriminatif. Sekolah dikuasai orang kaya, sedangkan masyarakat miskin kehilangan hak dasarnya, pendidikan. Pemerintah berusaha menampilkan kepedulian semu, semata memancing simpati masyarakat. Sebagai contoh, kasus terbaru terkait adanya Sekolah bertaraf internasional . Bagaimana mungkin hak pendidikan terus dipelihara sebagai ladang bisnis. Tak ada usaha pemerintah meluruskan kembali pendidikan sebagai kebutuhan mendasar rakyat Indonesia.   Ketika sentilan masyarakat mulai popular, pemerintah baru mau turun tangan. Tak untuk membubarkan sekolah bertarif mahal, melainkan merevisi kesalahan yang terlanjur dibiarkan berkembang.
Jika kita berbicara dalam sejarah pun benar rasanya , fakta serta polanya memungkinkan sama dengan peristiwa dan pelaku berbeda. Lulusan Barat misalnya tanpa bermaksud menggeneralisir menderita pembelokkan makna.   Hampir dapat dikatakan, penguasa pendidikan Indonesia banyak mengadopsi arus pemikiran Barat. Kurikulum pendidikan menyengsarakan masyarakat dan peserta didik. Setiap hari anak Indonesia dijejali padatnya mata pelajaran sehingga tak mengherankan peserta didik tidak fokus.Tidak jauh contohnya seperti saya ,sewaktu duduk dikelas SMA dari pagi pukul 6 tepat ,saya harus pergi ke sekolah dan pulang juga pukul 6 sore menjelang magrip dikarenakan mengikuti  les tambahan dan ketika pulang saya pun tak terfokuskan lagi untuk belajar disebabkan padatnya waktu yang membuat diri saya kelelahan.
Memang kurikulum pendidikan sekarang banyak mengacu pola pendidikan Barat. Sedangkan kebutuhan lokal sebagai budaya timur dipinggirkan. Dampaknya, manusia Indonesia cerdas secara pemikiran, banyak cacat secara moralitas. Ada distorsi memaknai pendidikan, bukan lagi menghasilkan cerdas bermoral. Produk pendidikan Indonesia mengagungkan kecerdasan intelektual, melupakan kecerdasan spiritual dan emosional. Dapat dikatakan pembentukan afektif, psikomotorik dan kognitif berjalan timpang.hal tersebut dapat membodohkan peserta didik .
Misalnya pendidikan yang cacat secara moralitas
Peserta terbunuhnya  praja IPDN akibat pemukulan yang dilakukan seniornya telah mencoreng muka dunia pendidikan di indoneia. praja yang dididik untuk menjadi pengayom masyarakat malah menjadi pembunuh yang  berdarah dingin. peristiwa  IPDN  tersebut merupakan salah satu dari bentuk penerapan sistem pendidikan yang sangat buruk. agar sistem pendidikan itu baik haruslah memenuhi unsur-unsur seperti yang tercantum diatas, tak lupa harus disertai dengan pengaturan internal pendidikan itu sendiri yaitu adanya penentuan kurikulum. kurikulum ini terkait dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai , artinya kurikulum  yang menggambarkan kualitas lulusan yang akan dihasilkan, agar tercipta proses yang handal dalam rangka menghasilkan output yang memiliki mutu tinggi, berkepribadian baik, islami dan sesuai dengan harapan.
Buruknya pendidikan Indonesia saat ini disebabkan oleh beberapa faktor
-          Faktor kemiskinan ,karena kurangnya kebutuhan hidup sehingga diprioritaskan dalam kebutuhan primer yaitu makan
-          Faktor fasilitas dimana faktor pengajar sangat sedikit dibandingkan pelajar
-          Faktor gender ,yaitu dimana perempuan itu sangat rendah .mereka berpikir bahwa perempuan hanya mengurus rumah tangga
-          Faktor budaya ,dimana faktor tersebut mengatakan bahwa kebanyakan masyarakat khususnya masyarakat pedalaman belum mengerti mengenai pendidikan ,mereka beranggapan bahwa pendidikan hanya menghabiskan waktu lebih baik anak-anak bekerja mencari sesuatu yang nyata
Disamping itu anak-anak pun banyak menjadi incaran orang-orang tak bertanggung jawab ,yang ingin merusak demi kepentingan pribadi .Diantaranya mengajarkan mereka merokok,mencoba ganja ,bahkan narkoba sekaligus.modus ini beraneka ragam dari yang halus kemudian secara terang – terangan .Seperti tipu daya permen yang sebenarnya adalah narkoba.dan pada akhirnya kecanduan sehingga ingin mencoba lagi.
Seperti hal nya pada teks diatas ,anak-anak kurang mampu tidak bisa menikmati pendidikan ,karena tidak ada biaya.jarangkan biaya ,kehidupan sehari-hari pun sangat sulit karena faktor kemiskinan  yang semakin hari semakin bertambah .adapun pepatah mengatakan “uang bukan segala-galanya ,namun segala-galanya butuh uang”.
Adapun upaya/solusi yang harus dilakukan
-          Memberikan pembelajaran gratis terhadap mereka dan meminjamkan buku-buku disela waktu renggang kita ,usaha ini dilakukan murah meriah dan dapat menyadarkan masyarakat sekitar untuk melakukan hal yang sama
-          Mengumpulkan buku-buku bekas dan memberikan contoh kepada pelajar agar buku disimpan dengan baik agar kelak diberikan kepada orang yang membutuhkan
-          Perpustakaan keliling yang memuat buku-buku bacaan ,memang ditahun sebelumnya sudah ada namun belum sepenuhnya berjalan secara maksimal
Dan mari kita ciptakan seorang pemimipin atau pendidik yang baik ,profesional dan berkualitas .agar dapat diajarkan kepada anak didiknya yang baik dan tidak hanya menciptakan pendidikan secara intelektual, spiritual,maupun emosional juga dapat meciptakan secara moralitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar