Buruknya Pendidikan Indonesia
Seperti
yang kita ketahui ,pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.Pendidikan sekarang, mengalami kesalahan yang sama. Benar rasanya
berbicara sejarah, fakta serta polanya memungkinkan sama dengan peristiwa dan
pelaku berbeda. Lulusan Barat (tanpa bermaksud menggeneralisir) menderita
pembelokkan makna . Zaman globalisasi saat ini sudah meracuni dunia pendidikan
,bagaimana tidak ?sebagaian generasi penerus bangsa hancur sebab pergaulan
serta dunia politik yang meracuni dunia pendidikan saat ini .
Seperti yang kita lihat saat ini
,banyak politik suap yang mempengaruhi dunia pendidikan .misalnya seorang anak
yang ingin mendapatkan SMA favoritnya namun ia bodoh tak punya skill dan
pendidikan ,dengan orang tuanya yang memiliki kelebihan kekayaan ia mampu untuk
menembus dunia pendidikan di SMA tersebut .tapi,bagaimanakah dengan orang
jenius yang tak mampu ?kebanyakan mereka kalah karena politik uang dan faktor
tertentu yang membuat mereka ragu dan tak ingin melanjutkan sekolahnya .
Apakah ini yang disebut pendidikan
Indonesia ? manakah janji pemerintah yang menjanjikan bahwa di masa mendatang, kita sebagai generasi
intelektual terdidik perlu merumuskan perubahan. Pendidikan harus mampu diakses
semua kalangan masyarakat, murah berkualitas dan kurikulum yang menyenangkan
bukan memberatkan UUD 1945 dalam Pasal 31, ayat 3 menegaskan mengenai tujuan pendidikan. Jika
masih ada diskriminasi pendidikan, artinya pemerintah merampas hak rakyat dan
merobek amanat konstitusi.
Kondisi
pendidikan saat ini tak ada habisnya, mengenai sistem
pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan diatas. Kondisi
pendidikan kita saat ini begitu menyedihkan. ada banyak hal yang harus dibenahi
dalam pendidikan kita ini, mengingat pendidikan adalah investasi masa
depan bangsa dan pengaruh dinamis terhadap perkembangan jasmani dan
rohani atau kejiwaan anak bangsa kita , dimana mereka dididik agar bisa
meneruskan gerak langkah kehidupan bangsa ini agar menjadi bangsa yang maju,
berpendidikan dan bermoral. ini tentunya akan menjadi tugas dan tanggung jawab
banyak pihak , orang tua, para pendidik (sekolah), masyarakat dan juga
pemerintah. kewajiban kita untuk mengembalikan kondisi pendidikan kita ini agar
menjadi pendidikan yang terbaik, bermutu serta cerdas dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan IMTAQ. pendidikan yang bertujuan untuk
membentuk generasi muda menjadi manusia haruslah menyangkut unsur-unsur
spiritual, moralitas, sosialitas dan rasionalitas, tidak hanya menekankan segi
pengetahuan saja (kognitif) tetapi harus menekankan segi emosi, rohani dan
hidup bersama. begitu juga dengan Ujian Nasional yang pemerintah canangkan
sebagai bentuk penilaian terhadap hasil belajar siswa. kegiatan ini hendaknya
tidak hanya sekedar menguji akan kemampuan siswa dalam hal ilmu pengetahuan,
akan tetapi juga menguji akan kemmpuan siswa dalam kerohaniannya. Sesuai
dengan tujuan ,peserta didik hendaknya memiliki kekuatan spiritual keagamaan.
Dan mari kita ciptakan guru yang
professional ,jangan kita ciptakan guru yang tak berkualitas karena seorang
guru ,seorang pemimpin dapat memberikan contoh yang tauladan terhadap anak
didiknya .Seperti yang kita lihat banyak sekali guru yang mengajar anaknya
dengan terapan DUKCAP (duduk,catat,tugas,pulang) seorang guru tak mengerti
apakah anak tersebut mengerti akan pelajaran yang disampaikannya atau sebaliknya.
Seharusnya hal itu patut diteladani ,betapa buruknya
pendidikan kita ?betapa malunya kita ,hanya sebagian yang menyadari dan sedikit
pula yang tahu mengenai hal ini .
Pendidikan berjalan diskriminatif. Sekolah dikuasai orang
kaya, sedangkan masyarakat miskin kehilangan hak dasarnya, pendidikan.
Pemerintah berusaha menampilkan kepedulian semu, semata memancing simpati
masyarakat. Sebagai contoh, kasus terbaru terkait adanya Sekolah bertaraf
internasional . Bagaimana mungkin hak pendidikan terus dipelihara sebagai
ladang bisnis. Tak ada usaha pemerintah meluruskan kembali pendidikan sebagai
kebutuhan mendasar rakyat Indonesia. Ketika sentilan masyarakat mulai
popular, pemerintah baru mau turun tangan. Tak untuk membubarkan sekolah
bertarif mahal, melainkan merevisi kesalahan yang terlanjur dibiarkan
berkembang.
Jika kita berbicara dalam sejarah pun benar rasanya ,
fakta serta polanya memungkinkan sama dengan peristiwa dan pelaku berbeda.
Lulusan Barat misalnya tanpa bermaksud menggeneralisir menderita pembelokkan
makna. Hampir dapat dikatakan, penguasa pendidikan Indonesia banyak
mengadopsi arus pemikiran Barat. Kurikulum pendidikan menyengsarakan masyarakat
dan peserta didik. Setiap hari anak Indonesia dijejali padatnya mata pelajaran
sehingga tak mengherankan peserta didik tidak fokus.Tidak jauh contohnya
seperti saya ,sewaktu duduk dikelas SMA dari pagi pukul 6 tepat ,saya harus
pergi ke sekolah dan pulang juga pukul 6 sore menjelang magrip dikarenakan
mengikuti les tambahan dan ketika pulang
saya pun tak terfokuskan lagi untuk belajar disebabkan padatnya waktu yang
membuat diri saya kelelahan.
Memang kurikulum pendidikan sekarang banyak mengacu pola
pendidikan Barat. Sedangkan kebutuhan lokal sebagai budaya timur dipinggirkan.
Dampaknya, manusia Indonesia cerdas secara pemikiran, banyak cacat secara
moralitas. Ada distorsi memaknai pendidikan, bukan lagi menghasilkan cerdas
bermoral. Produk pendidikan Indonesia mengagungkan kecerdasan intelektual,
melupakan kecerdasan spiritual dan emosional. Dapat dikatakan pembentukan
afektif, psikomotorik dan kognitif berjalan timpang.hal tersebut dapat
membodohkan peserta didik .
Misalnya
pendidikan yang cacat secara moralitas
Peserta terbunuhnya praja IPDN akibat pemukulan
yang dilakukan seniornya telah mencoreng muka dunia pendidikan di indoneia.
praja yang dididik untuk menjadi pengayom masyarakat malah menjadi pembunuh
yang berdarah dingin. peristiwa IPDN tersebut merupakan salah
satu dari bentuk penerapan sistem pendidikan yang sangat buruk. agar sistem
pendidikan itu baik haruslah memenuhi unsur-unsur seperti yang tercantum
diatas, tak lupa harus disertai dengan pengaturan internal pendidikan itu sendiri
yaitu adanya penentuan kurikulum. kurikulum ini terkait dengan tujuan
pendidikan yang hendak dicapai , artinya kurikulum yang menggambarkan
kualitas lulusan yang akan dihasilkan, agar tercipta proses yang handal dalam
rangka menghasilkan output yang memiliki mutu tinggi, berkepribadian baik,
islami dan sesuai dengan harapan.
Buruknya pendidikan Indonesia saat ini disebabkan oleh
beberapa faktor
-
Faktor kemiskinan ,karena kurangnya kebutuhan
hidup sehingga diprioritaskan dalam kebutuhan primer yaitu makan
-
Faktor fasilitas dimana faktor pengajar
sangat sedikit dibandingkan pelajar
-
Faktor gender ,yaitu dimana perempuan itu
sangat rendah .mereka berpikir bahwa perempuan hanya mengurus rumah tangga
-
Faktor budaya ,dimana faktor tersebut
mengatakan bahwa kebanyakan masyarakat khususnya masyarakat pedalaman belum
mengerti mengenai pendidikan ,mereka beranggapan bahwa pendidikan hanya
menghabiskan waktu lebih baik anak-anak bekerja mencari sesuatu yang nyata
Disamping itu anak-anak pun banyak menjadi incaran
orang-orang tak bertanggung jawab ,yang ingin merusak demi kepentingan pribadi
.Diantaranya mengajarkan mereka merokok,mencoba ganja ,bahkan narkoba
sekaligus.modus ini beraneka ragam dari yang halus kemudian secara terang –
terangan .Seperti tipu daya permen yang sebenarnya adalah narkoba.dan pada
akhirnya kecanduan sehingga ingin mencoba lagi.
Seperti hal nya pada teks diatas ,anak-anak kurang mampu
tidak bisa menikmati pendidikan ,karena tidak ada biaya.jarangkan biaya
,kehidupan sehari-hari pun sangat sulit karena faktor kemiskinan yang semakin hari semakin bertambah .adapun
pepatah mengatakan “uang bukan segala-galanya ,namun segala-galanya butuh
uang”.
Adapun
upaya/solusi yang harus dilakukan
-
Memberikan
pembelajaran gratis terhadap mereka dan meminjamkan buku-buku disela waktu
renggang kita ,usaha ini dilakukan murah meriah dan dapat menyadarkan
masyarakat sekitar untuk melakukan hal yang sama
-
Mengumpulkan
buku-buku bekas dan memberikan contoh kepada pelajar agar buku disimpan dengan
baik agar kelak diberikan kepada orang yang membutuhkan
-
Perpustakaan
keliling yang memuat buku-buku bacaan ,memang ditahun sebelumnya sudah ada
namun belum sepenuhnya berjalan secara maksimal
Dan mari kita ciptakan
seorang pemimipin atau pendidik yang baik ,profesional dan berkualitas .agar
dapat diajarkan kepada anak didiknya yang baik dan tidak hanya menciptakan
pendidikan secara intelektual, spiritual,maupun emosional juga dapat meciptakan
secara moralitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar